Uncategorized

Apalah artinya kamu?

Pernah gusar rasanya mendengarkan kamu mengatakannya. Baik dalam posisi dan jabatan yang kamu punya, aku merasa tak pantas kalau kamu itu mrnyarankan aku berobat. Kamu pilih RSJ Menur unuk aku. Kata kamu biar seperti istrimu.

Advertisements
Uncategorized

Jangan lupa, semua akan ada balasannya.

Hiduplah dengan cara yang baik. Itu pesan umum untuk semua orang. Aku hanya menyampaikan. Aku tahu kamu tak akan sempat membaca tulisanku. Tapi seperti dulu orang-orang menulis surat atau pesan di kertas, lalu dengan sengaja dimasukkan ke dalam botol dan dihanyutkan di laut, aku menulis karena ini pesan penting dalam hidup.

Baik atau buruk yang dilakukan orang akan mendapatkan balasan. Selama ini aku sangat percaya dengan pesan ini. Apa dasarnya? Aku percaya dengan apa yang tertulis di Al-Mulk. Tabarak. Percayalah bahwa kalian tidak akan pernah bisa menghindari.

Uncategorized

Meneruskan rencana untuk menulis

Terus terang, mood sangat mempengaruhi perjalanan rencanaku untuk menjadi penulis meski hanya di blog pribadi seperti ini. Entah dua atau tiga bulan aku tidak menulis. Ini lantaran aku sedang tidak merasa senang hati. Aku benar-benar sedih.

Surat Keputusan (SK) yang melepaskan jabatan guru itu benar-benar terbit, dan tentu saja aku tidak merasa senang. Aku ditempatkan di kantor. Aku tidak lagi berhubungan dengan segala sesuatu yang ada di sekolah. Sekitar Januari yang aku menerimanya dari Kasubag TU yang dulunya sempat membisikkan inisiatif menuliskan pengajuan mutasi dari jabatan guru ke staff di kantor. Lantaran posisi yang tidak mengenakkan aku mau saja menuliskannya sekedar ingin mendapatkan kepastian posisi.

Sebenar aku sudah mengajar selama 21 tahun. Layak kalau ada proses regenerasi yang baik, untuk menjadi seorang kepala sekolah. Pede saja aku mengatakannya. Masalah senioritas bisa diandalkan, sebab urutan DUK di sekolah sempat menthok. Sayangnya, nasib tidak selalu sama dengan apa saja yang kita angankan.

Inilah sekarang keadaanku. Aku menjadi staff kantor yang kerjanya hanya duduk di depan laptop pribadi. Tak ada yang aku kerjakan. Tugas dari kepala seksi sangat tidak jelas. Tugas saya hanya disuruh menikmati saja. So, what?! Apa tidak distribusi kerja yang lebih baik lagi? Dari dulu aku sangat bisa menikmati apa saja yang aku lakukan. Aku tidak terlalu bodoh untuk ukuran guru bahasa Inggris, dengan pengalaman lebih dari 21 tahun. O la la.

Tak apa. Mungkin inilah saatnya yang tepat untuk aku banting setir betulan. Sebelum ini hanya angan-angan atau sekedar obsesi. Aku mau menjadi penulis. Itu saja. Dan, kalau diceritakan kepada orang lain tentu saja akan sangat memalukan. Apalagi di posting di facebook yang menyatakan diri bahwa aku sukanya menulis. Wahh! Bagaimana bentuk tulisan saya? Lupa.

 

Uncategorized

Berbagi itu kebaikan saja!

Aku pernah menjadi guru. Artinya aku pernah memilih hal-hal yang baik untuk aku tawarkan kepada semua siswa yang aku hadapi di kelas. Meski mereka jauh di bawahku dalam masalah umur dan pengalaman, aku tak menganggap mereka tidak bisa mengerti apakah kebaikan atau keburukan yang aku bawa dan presentasikan di kelas. Mereka sangat peka. Mereka, aku yakini sepanjang hidupku, tidak pernah diciptakan sebagai anak-anak bodoh. Tidak ada anak yang bodoh!

Jaman sudah berubah. Aku tak bisa lagi berada di sekolah. Aku tak boleh lagi mengajar di kelas. Ada tangan-tangan yang sudah usil dan tidak merelakan aku berkarya. Aku sudah kehilangan identitas diri sebagai guru. Dua tahun sudah. Pengalaman yang sangat tidak menyenangkan.

Apa saja. Aku hanya tetap berpikir bagaimana caranya untuk tetap berbuat baik saja. Karena aku berkemampuan dan sangat menyukai hal-hal yang terkait bahasa dan bagaimana caranya berbagi kebaikan dalam dunia belajar dan mengajar bahasa, maka yang aku pilih untuk terus ‘beramal’ baik adalah membaca dan menulis.

Uncategorized

Mengembangkan Hidup Positif

Aku memang tengah terdampar di sebuah pulau kehidupan baru, yang sepertinya tidak akan pernah sama dengan kehidupan yang dulu. Inilah kenyataan. Aku tidak pernah sekalipun membayangkan bahwa ada proses hidup yang mematikan rasa.

Sedikitnya ada peringatan di surat Al-A’raf ayat 14: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila tekah datang waktunya mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sedikit pun dan tidak pula dapat memajukannya.” Garis nasib memberikan suatu perubahan yang tidak pernah aku sangka-sangka. Aku tidak bisa memahaminya. Tetapi aku harus tetap menjalaninya.

Aku membicarakan tentang perubahan status kerja. Memang ada perbaikan dari apa saja yang aku alami selama dua tahun terakhir. Tetapi aku masih harus beradaptasi. Pengalaman sebagai guru, dengan segala aktivitasnya, dan sekarang aku harus masuk ke kantor tetek bengek yang membosankan sungguh membuat stress. Aku tidak mau lagi mengulangi stress-stress yang dulu. Aku harus aktif mengembangkan diri agar tidak aus dan menjadi usang karena tidak mau berubah. Aku mau berhenti menyalahkan mereka yang ada di luar diriku. Aku mau memanfaatkan waktu ini untuk bersikap positif.

Uncategorized

Dalam bayangan cinta

Ibu selalu memperhatikan aku. Apapun yang aku lakukan tak pernah luput dari sorot mata penuh sayang itu. Ia mengasihi aku, dan ia berharap aku menjadi permata dalam pandang matanya. Ia tidak mau aku lengah, lupa bahwa hidup itu harus dijalankan secara bersahaja dan dengan penuh rasa ikhlas.

Sayangnya, aku adalah tipe pemberontak dari sononya. Aku mau lepas dari kendali orang tua yang sudah mendidik dan membesarkan sejak orok kecil yang tidak tahu menahu masalah hidup di dunia ini. Memang cara berpikir yang aku pakai tidak berdasar pada bijaknya orang melihat dunia ini. Aku maunya menjangkau apa saja di luar realita yang aku miliki. Aku sangat yakin bisa menjangkaunya. Tentu saja, apa yang tidak direstui orang tua, utamanya hati seorang ibu, membuat jalan hidupku tidak berjalan mulus. Satu sorot mata saja, aku bisa merasa apakah ibuku suka atau tidak suka. Begitulah aku menjadi semakin dewasa.

Sikap rela dari ibuku sangat aku harap. Juga saat beliau berada di alam lain sana. Beliau sudah meninggal setahun yang lalu. Meski demikian, aku berharap beliau tersenyum dan melambaikan tangan agar aku terus bèrjalan dan melangkahkan kaki dengan tegar. Aku ingin beliau rela dengan apapun yang aku mau, dan ingin pula agar beliau bahagia telah bisa mendidik anaknya menjadi orang sholeh. Satu kedipan mata saja aku bisa merasakannya. Hubungan rahim ini masih terjaga.

Hanya karena cinta aku bisa terus hidup dalam ridho Allah. Aku bersyukur mendapati hidup dalam dekapan ibuku. Dan, sebagai gantinya aku ingin dekapannya itu membuat aku tegar dan tabah dalam menghadapi cobaan. Hari demi hari aku melanjutkan suatu titah perjalanan hidup sebagai amanah mulia. Aku tidak ingin mengabaikan. Nasehat adalah satu kecintaan. Sama seperti sakit, obatnya selalu disiapkan. Kesulitan hidup juga memiliki rahasia untuk dicermati hikmahnya. Pasti ada jalan. “Indah pada waktunya.”

Cinta itu dalam ujian perjalanan ini. Sungguh berat kalau tidak menikmatinya.