Uncategorized

Jangan mengabdi kepada syetan

Hidup adalah serangkaian ujian. Inilah satu kenyataan yang wajib diyakini. Tak bisa dipungkiri, semua orang akan menemui ujiannya yang beda bentuk dan tingkatannya dari satu orang ke orang yang lainnya.

Diciptakannya manusia dan semua yang ada di langit dan bumi hanyalah untuk menyembah Allah yang maha suci. Tidak boleh ada sekutu untuk tuham seklian alam. Begitulah jalan lurus yang diajarkan. Siapa yang mau percaya, itulah orang yang mendapat hidayah. Sementara mereka yang tidak mau percaya dan enggan mrnjalani agama yang lurus ini tidak mendapat nikmat hidayah tersebut. Sementara Allah tidak beranak dan tidak perlu diperanakkan. Allah tidak akan sama dengan apa saja. 

Terlalu banyak godaan yang akan bisa menjerumuskan manusia. Terutama godaan dari syetan terkutuk. Dia tidak rela kalau manusia itu beriman dan ikhlas dalam menjalani hidup karena Allah semata. Syetan selalu mengajari manusia untuk berbuat ma’syiat dan berbuat ingkar. Tipu muslihatnya ada dan banyak macamnya. Hati-hatilah.

Advertisements
Uncategorized

Aku tak bisa menjadi makmum

Salah satu orang yang mendapatkan perlindungan Allah di hari akhir nanti adalah imam yang adil. Islam jelas mengajak umatnya tegas dalam sikap adil. Masalahnya semua orang itu jadi imam atau pemimpin. Amanah setiap orang yang memimpin tentu saja adil dalam setiap amaliahnya.

Kalau tidak adil? Dzalim itu jelas.

Rasanya trauma dengan kata yang terakhir itu. Mengapa? Berhadapan dengan orang yang dzalim, posisi yang berat tentunya saat didzalimi. Tidak enak. Sedih. Tidak berdaya. 

Allah pasti melaknat orang-orang yang dengan sengaja berbuat dzalim. Repot. Aku tak mau menyimpan dendam. Doa sekecil apa pun Allah mendengar.

Aku memang sakit hati. Aku hanya berusaha menghindari orangnya. Aku tak mau berdiri di belakangnya. Dia dzalim. Aku lebih suka mencari imam lain.

Biarkan aku lepas dari mereka yang tidak memiliki hati yang lembut itu.

 

Uncategorized

Melirik tujuan hidupmu

Bukan karena hari Jum’at. Setiap hari layaknya orang berusaha berbuat baik dan terus mau memperbaiki dirinya. Hidup ini bukan hanya sekedar menjalani. Ada tujuan hidup yang layak kita pelajari dan cari maknanya. Setiap saat, kita mencari “ibroh” di dalam setiap kejadian hidup.

“When people ask what is the point of life, the easy answer is to continually better oneself.” (The Importance Of Developing Yourself Beyond Academic Knowledge) homeworkelves

Hidup ini dijalani untuk dibuktikan baik buruknya. Harus ada makna yang diwujudkan dalam pembuktian hidup ini. Selalu berbuat berbuat itu berarti kita benar-benar hidup.  Berhenti berbuat baik sebentar saja, kita sudah menghentikan perjalanan untuk meraih kebahagiaan yang kita inginkan.

Aku baru saja meresapi makna apa yang ditawarkan pada surat Al-Mukminun, surat ke 22 dalam Al-Quran setelah persis sampai di rumah. “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” Layaknya, setiap orang hidup itu pasti beriman. Semua memiliki suatu keyakinan kuat dalam beramal baik di dunianya. Masing-masing memiliki dasar pijakan untuk keimanan yang berbeda-beda. Ada yang disebabkan ilmunya. Sebagian dengan apa yang dikuasai dalam jabatannya. Ada pula karena hartanya. Malah ada juga yang menuruti adat-istiadat yang diwarisi. Sedangkan sebagian orang lainnya mengandalkan apa saja yang dilakukan orang banyak. Tetapi tidak semuanya benar. Setiap orang diwajibkan belajar berubah. Pikiran dan perasaan, dalam bentuk intinya sebagai hati nurani harus semakin cerdas. Tanpa perubahan dan pengembangan diri sepertinya kita akan terjebak, jatuh bangun, jatuh dan lalu tidak bangun lagi. Orang beriman itu sukses dalam menjalani hidupnya.

Simak betul tentang syarat-syarat sukses dalam hidup. Tetap merujuk ibrohnya orang-orang beriman. Sholat sebagai satu ketundukan yang membuktikan. Jasmani dan rohani itu menyatu dalam takbir, rukuk dan sujud mengisyaratkan pikiran dan perasaan yang tegas menghambakan diri. Tidak ada pikiran yang mengambang. Suksesnya orang yang beriman juga menjadikan dia mampu meninggalkan masalah-masalah yang membuat lalai. Cerdas jadinya. Orang sukses itu memiliki prioritas hidup. Imannya dijaga. Mereka bukan orang yang pelit dan tidak mau berbagi. Hidup ini adalah amanahnya. Tidak ada rasa putus asa dan menyerah pada kerusakan pikiran dan perasaan. “Cogito ergo sum,” istilah yang disebutkan Rene Descartes. Tetap berbuat baik dan mempertahankan diri dalam kebaikan. Itu benar-benar sukses namanya. Perbuatan buruk yang berbalutkan nafsu apa saja selalu dihindari. Jalan pikiran yang lurus saja yang mereka mau.

“Success is something!” Kita bahagia sebab ada yang bisa dinikmati. Perjuangan hidup ini menjadi bekal ceritanya. Belajar dan terus belajar menjadi ciri orang sukses. Setiap berhasil menggapai satu prestasi hidup, orang sukses dan orang beriman itu sama-sama tidak larut pada kegembiraan yang membuat lupa. Mereka tetap cermat, cerdas serta bersahaja. Tidak ada sombongnya. Perjalanan masih sangat panjang. Ada senggang dan jeda untuk muhasabah. Sukses bukan sebuah pemberhentian. “Get set!”

Aku hanya mengajak melirik saja. Tujuan hidup adalah bahagia. Pengembangan pribadi adalah perbekalan dan persiapan sesungguhnya. Cepatlah berubah. Dunia menanti.

Tujuan hidup orang beriman adalah sebuah kemenangan. Tidak ada lagi hidup yang penuh keluh-kesah. Ikhlas itu di dalam hati. Sabar itu dalam pikiran dan sikapnya. Cerdaskan diri menghadapi segala kemungkinan. Di sekolah alam ini segala macam tantangan akan memberi arti. Hidup ini memaknai diri sendiri.

Bojonegoro, 4 Agustus 2017

 

opini

Menulis itu di awalnya

Buku tentang menulis aku baca kembali. Aku mengulangi lagi apa saja yang tidak bisa aku lakukan dengan baik kali ini. Aku hanya memiliki serpihan-serpihan cerita yang sudah berserak sana sini dan bahkan terlupakan karena aku tidak mau mengingatnya. Aku mengingat lagi bagaimana cara merangkai tema atau bahan cerita yang perlu aku ceritakan. Aku kembali belajar kembali persis ketika aku mau menulis.

Topik yang terlalu luas itu perlu disempitkan lagi dan lagi sampai akhirnya aku ketemu dengan bahan cerita yang benar-benar mau aku angkat dalam cerita. Selanjutnya, aku masih berkewajiban membangun sub-sub topik. Aku perlu memikirkan “tone,” diksi dan lainnya pada tulisan yang aku rangkai. Aku masih jauh dari sana.

FB_IMG_1499506639096

Uncategorized

Ups, Salah!

Sebenarnya aku tak mau menceritakannya. Urusan ini bisa diselesaikan antara sesama laki-laki saja. Faktanya bicara lain. Kamu dan teman-temanmu sudah sangat memaksa. Kalau bukan karena keluarga dan tangan-tangan lainnya, aku pasti memilih gila.

Di sekolah, aku tahu persis siapa kawan dan siapa lawan. Ada juga yang abu-abu. Dari guru satu dan guru lainnya aku sering bertegur sapa. Aku mencoba mengenali sifat dan karakter pembawaannya pada saat kita berkata-kata dalam satu bahasa. Tidak ada yang salah dalam hubunganku dengan hampir semua guru di sekolah sana.

Kemudian datanglah kepala sekolah baru. Adaptasi dan pengenalan warga sekolah luar biasa. Disusul juga hadirnya seorang kepala tata-usaha yang baru. Ini luar biasa saja. Warga sekolah melihat keduanya sebagai orang baru yang sama-sama membawa luka. Banyak cerita yang memiliki kisah-kisah tragis yang berujung nestapa. Mereka berdua adalah pasangan durjana. Dua sekawan yang berposisi menakutkan.

Guru adalah bawahan. Karyawan sekolah juga harus diingatkan statusnya. Peringatan, semuanya layak dikorbankan. Hebatnya, ini kenyataan yang masuk pada bagian kelam sejarah sekolah, “The Untold Stories.” Jangan tanyakan posisiku dulu. Aku ini adalah manusia jadi-jadian. Namun aku selalu berkelebatan ke sana sini dan mendengarkan dengan jelas runut cerita berbagai kejadian di sekolah.

bersambung lain waktu

 

 

Uncategorized

Aku pikir gampang

Satu kebiasaanku dalam berpikir memang tidak pernah mempersulit diri. Aku memang termasuk orang yang ‘easy going’, yang dalam bahasa Indonesia adalah gampangan. Baik untuk kepentinganku sendiri, untuk keluarga, atau untuk siswa di kelas, aku selalu memilih jalan yang termudah saja. Beda dengan ungkapan yang sering aku dengar, “Kalau bisa dipersulit, ngapain dibuat mudah!” Cara bepikir itu sudah aku dengar pada tahun 1998, yaitu sewaktu aku masih kuliah.

Kenyataan hidup ternyata memberi pelajaran baru. Berpikir dengan gayaku pribadi tidak berlaku di dunia birokrasi. Nasib buruk setahun ini adalah produk pola pikir birokrasi yang tidak pernah aku pelajari sepanjang hidup. Sampai kapan pun, kalau memang nanti ada kesempatan, aku tidak mau main-main dengan pola pikir birokrasi. Cara berpikir sulit itu jauh dari jalan kebahagiaan.

Aku tidak bermaksud mengajak bicara masalah birokrasi kali ini. Masalah yang aku bicarakan adalah mengenai menulis dan proses menulis. Biasanya, aku bisa sangat cerdas dan tergerak menulis tentang apa saja dengan lancarnya. Tetapi, beberapa hari ini lain sekali.

Kalau hanya posting masalah-masalah yang sederhana, aku bisa hanya mengambil satu kata kunci saja. Berawal dari satu kata itu, pikiranku langsung secara otomatis membuat sketsa peta konsep di awang-awang. Aku terbang melayang untuk menjalin kalimat demi kalimat tanpa harus melihat konsep. Jari tangan ini akan lincah mengetikkan apa saja. Sekejab aku sudah bisa membuat satu buah gagasan sepanjang lima atau enam paragraf.

Paling aku sudah kejangkitan virus di kantor. Atau, barangkali kemampuanku berbahasa dan pengalamanku sebagai guru bahasa sudah memudar kesaktiannya. Bisa jadi, karena lebih sering jogging pada waktu jam-jam kerja, skill kebahasaanku jatuh di jalanan, utamanya sekitar Taman Rajekwesi. Kalau ini benar-benar terjadi, aku akan menuntut mereka membuat aku tambah bodoh. Aku guru bahasa yang dibodohkan oleh birokrasi bobrok. Siapa lagi yang mau aku salahkan?

156

Sudah hari ke 38 ini aku habis-habisan posting di facebook, twitter dan wordpress agar kemampuanku menulis semakin lancar. Persis. Itu jawaban kepada orang yang mengatakan aku kurang pekerjaan. Berulang kali posting dan komentar.

Semuanya masih belum cukup. Aku masih saja perlu banyak latihan lagi. Seperti kemarin pagi, aku merasa ‘blank’ dan tidak bisa memulai tulisan yang aku mau segera dikerjakan. Tidak tersentuh. Bisanya ya posting awuran seperti sekarang ini. Kalau hanya posting seperti ini, kapan aku bisa bangga dan menunjukkan kepada orang lain ini loh tulisanku. ini juga artikel yang aku tulis. Dan, yang aku sangat dambakan adalah ketika aku bisa berkata, “Ini buku yang sudah bisa terbit!”

Kapan? Walah, aku pikir sangat gampang. Di waktu yang sangat longgar seperti sekarang saja aku masih meraba-raba dan belum menemukan tangga pertamanya. Aku masih perlu menunggu waktu terang sehingga aku bisa melangkahkan kaki, menapak ke arah yang benar sehingga aku tidak terperosok. Aku perlu membuat perencanaan yang matang tentang apa saja yang bisa aku tulis dalam sebuah indahku. Aku harus mencari sumber cerita persis di lokasi yang mendatangkan imajinasi tepatnya.

Aku akan menjadi seorang etnografer di sekolahku yang lama. Baru kemarin aku bisa agak lega setelah bertemu dengan kepala sekolah agar aku boleh standby di sekolah. Dunia sekolahku sudah berubah jauh. Teman-temanku banyak yang bercerita tentang kepala sekolah yang baru, yang mereka katakan sangat baik. Kalau ceritanya begitu, maka tugasku untuk bisa menjadi penulis menjadi semakin sulit. Pada waktu dulu akulah yang selalu menjadi korban. Aku maunya menceritakan tentang kurang bagus atau buruknya kepemimpinan sekolah. Kalau keadaan berubah, jelas tidak mudah.

Apalagi aku sekarang adalah orang asing. Tak pikir gampang!

#mimpipenulis