Posted in Uncategorized

Tentang budaya ngopi milenial

Siapa saja bisa mengamati. Ngopi sekarang tidak sederhana, pasti tidak sama dengan jamannya mbah Kung masih sugeng. Ngopi menjadi tradisi baru yang bisa dikatakan menyenangkan pun juga disebut menyedihkan.

Mengapa harus dibahas? Begitu itu pula yang ada pikiran. Aku sungguh tidak menyangka kalau pikiranku sampai merambah ke masalah yang tidak penting ini. Maksudku, kenapa juga harus merenungi masalah kebutuhan individu atau sosial ini.

Ngopi menjadi suatu budaya yang bisa kontra produktif saat ini. Ada ribuan warung kopi yang muncul di era sekarang. Penguasaha tahu adanya fenomena menarik dalam tatanan sosial kita. Mereka tahu kalau masyarakat sedang galau lantaran susahnya mencari kerja. Mereka tahu perlunya tempat pelarian bagi orang-orang yang tidak beruntung dalam berusaha. Mereka mau melayani orang banyak. Namun, mereka mau mendapat untung juga.

Sekarang, idenya harus canggih. Mereka siapkan warung kopi modern yang menyediakan satu fasilitas utama–wifi. Tidak ada wifi tidak afdhol.

Inilah kawah condrodimuko yang baru. Warung kopi plus wifi itu menjadi tempat bagi orang-orang yang mencari identitas diri. Beda. Ini bukan warung kopi jaman dahulu. Kebanyakan yang hadir di sana adalah orang–orang yang terlalu senggang waktunya.

Ngopi itu keren. Ini kalau tidak mau ganti kosa kata–kere. Beda, dan bedanya hanya sedikit.

Author:

Secangkir Kopi adalah awal cerita duka seorang guru. Mengapa harus minum kopi hitam? Ibroh hidupmu adalah bagaimana kamu bangkit dari kematian panjang,