Posted in Uncategorized

Meneruskan rencana untuk menulis

Terus terang, mood sangat mempengaruhi perjalanan rencanaku untuk menjadi penulis meski hanya di blog pribadi seperti ini. Entah dua atau tiga bulan aku tidak menulis. Ini lantaran aku sedang tidak merasa senang hati. Aku benar-benar sedih.

Surat Keputusan (SK) yang melepaskan jabatan guru itu benar-benar terbit, dan tentu saja aku tidak merasa senang. Aku ditempatkan di kantor. Aku tidak lagi berhubungan dengan segala sesuatu yang ada di sekolah. Sekitar Januari yang aku menerimanya dari Kasubag TU yang dulunya sempat membisikkan inisiatif menuliskan pengajuan mutasi dari jabatan guru ke staff di kantor. Lantaran posisi yang tidak mengenakkan aku mau saja menuliskannya sekedar ingin mendapatkan kepastian posisi.

Sebenar aku sudah mengajar selama 21 tahun. Layak kalau ada proses regenerasi yang baik, untuk menjadi seorang kepala sekolah. Pede saja aku mengatakannya. Masalah senioritas bisa diandalkan, sebab urutan DUK di sekolah sempat menthok. Sayangnya, nasib tidak selalu sama dengan apa saja yang kita angankan.

Inilah sekarang keadaanku. Aku menjadi staff kantor yang kerjanya hanya duduk di depan laptop pribadi. Tak ada yang aku kerjakan. Tugas dari kepala seksi sangat tidak jelas. Tugas saya hanya disuruh menikmati saja. So, what?! Apa tidak distribusi kerja yang lebih baik lagi? Dari dulu aku sangat bisa menikmati apa saja yang aku lakukan. Aku tidak terlalu bodoh untuk ukuran guru bahasa Inggris, dengan pengalaman lebih dari 21 tahun. O la la.

Tak apa. Mungkin inilah saatnya yang tepat untuk aku banting setir betulan. Sebelum ini hanya angan-angan atau sekedar obsesi. Aku mau menjadi penulis. Itu saja. Dan, kalau diceritakan kepada orang lain tentu saja akan sangat memalukan. Apalagi di posting di facebook yang menyatakan diri bahwa aku sukanya menulis. Wahh! Bagaimana bentuk tulisan saya? Lupa.

 

Author:

Secangkir Kopi adalah awal cerita duka seorang guru. Mengapa harus minum kopi hitam? Ibroh hidupmu adalah bagaimana kamu bangkit dari kematian panjang,