Posted in Uncategorized

Melirik tujuan hidupmu

Bukan karena hari Jum’at. Setiap hari layaknya orang berusaha berbuat baik dan terus mau memperbaiki dirinya. Hidup ini bukan hanya sekedar menjalani. Ada tujuan hidup yang layak kita pelajari dan cari maknanya. Setiap saat, kita mencari “ibroh” di dalam setiap kejadian hidup.

“When people ask what is the point of life, the easy answer is to continually better oneself.” (The Importance Of Developing Yourself Beyond Academic Knowledge) homeworkelves

Hidup ini dijalani untuk dibuktikan baik buruknya. Harus ada makna yang diwujudkan dalam pembuktian hidup ini. Selalu berbuat berbuat itu berarti kita benar-benar hidup.  Berhenti berbuat baik sebentar saja, kita sudah menghentikan perjalanan untuk meraih kebahagiaan yang kita inginkan.

Aku baru saja meresapi makna apa yang ditawarkan pada surat Al-Mukminun, surat ke 22 dalam Al-Quran setelah persis sampai di rumah. “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” Layaknya, setiap orang hidup itu pasti beriman. Semua memiliki suatu keyakinan kuat dalam beramal baik di dunianya. Masing-masing memiliki dasar pijakan untuk keimanan yang berbeda-beda. Ada yang disebabkan ilmunya. Sebagian dengan apa yang dikuasai dalam jabatannya. Ada pula karena hartanya. Malah ada juga yang menuruti adat-istiadat yang diwarisi. Sedangkan sebagian orang lainnya mengandalkan apa saja yang dilakukan orang banyak. Tetapi tidak semuanya benar. Setiap orang diwajibkan belajar berubah. Pikiran dan perasaan, dalam bentuk intinya sebagai hati nurani harus semakin cerdas. Tanpa perubahan dan pengembangan diri sepertinya kita akan terjebak, jatuh bangun, jatuh dan lalu tidak bangun lagi. Orang beriman itu sukses dalam menjalani hidupnya.

Simak betul tentang syarat-syarat sukses dalam hidup. Tetap merujuk ibrohnya orang-orang beriman. Sholat sebagai satu ketundukan yang membuktikan. Jasmani dan rohani itu menyatu dalam takbir, rukuk dan sujud mengisyaratkan pikiran dan perasaan yang tegas menghambakan diri. Tidak ada pikiran yang mengambang. Suksesnya orang yang beriman juga menjadikan dia mampu meninggalkan masalah-masalah yang membuat lalai. Cerdas jadinya. Orang sukses itu memiliki prioritas hidup. Imannya dijaga. Mereka bukan orang yang pelit dan tidak mau berbagi. Hidup ini adalah amanahnya. Tidak ada rasa putus asa dan menyerah pada kerusakan pikiran dan perasaan. “Cogito ergo sum,” istilah yang disebutkan Rene Descartes. Tetap berbuat baik dan mempertahankan diri dalam kebaikan. Itu benar-benar sukses namanya. Perbuatan buruk yang berbalutkan nafsu apa saja selalu dihindari. Jalan pikiran yang lurus saja yang mereka mau.

“Success is something!” Kita bahagia sebab ada yang bisa dinikmati. Perjuangan hidup ini menjadi bekal ceritanya. Belajar dan terus belajar menjadi ciri orang sukses. Setiap berhasil menggapai satu prestasi hidup, orang sukses dan orang beriman itu sama-sama tidak larut pada kegembiraan yang membuat lupa. Mereka tetap cermat, cerdas serta bersahaja. Tidak ada sombongnya. Perjalanan masih sangat panjang. Ada senggang dan jeda untuk muhasabah. Sukses bukan sebuah pemberhentian. “Get set!”

Aku hanya mengajak melirik saja. Tujuan hidup adalah bahagia. Pengembangan pribadi adalah perbekalan dan persiapan sesungguhnya. Cepatlah berubah. Dunia menanti.

Tujuan hidup orang beriman adalah sebuah kemenangan. Tidak ada lagi hidup yang penuh keluh-kesah. Ikhlas itu di dalam hati. Sabar itu dalam pikiran dan sikapnya. Cerdaskan diri menghadapi segala kemungkinan. Di sekolah alam ini segala macam tantangan akan memberi arti. Hidup ini memaknai diri sendiri.

Bojonegoro, 4 Agustus 2017

 

Author:

Biarkan langkah bergerak sejalan waktu mengiring.