Posted in Uncategorized

Aku pikir gampang

Satu kebiasaanku dalam berpikir memang tidak pernah mempersulit diri. Aku memang termasuk orang yang ‘easy going’, yang dalam bahasa Indonesia adalah gampangan. Baik untuk kepentinganku sendiri, untuk keluarga, atau untuk siswa di kelas, aku selalu memilih jalan yang termudah saja. Beda dengan ungkapan yang sering aku dengar, “Kalau bisa dipersulit, ngapain dibuat mudah!” Cara bepikir itu sudah aku dengar pada tahun 1998, yaitu sewaktu aku masih kuliah.

Kenyataan hidup ternyata memberi pelajaran baru. Berpikir dengan gayaku pribadi tidak berlaku di dunia birokrasi. Nasib buruk setahun ini adalah produk pola pikir birokrasi yang tidak pernah aku pelajari sepanjang hidup. Sampai kapan pun, kalau memang nanti ada kesempatan, aku tidak mau main-main dengan pola pikir birokrasi. Cara berpikir sulit itu jauh dari jalan kebahagiaan.

Aku tidak bermaksud mengajak bicara masalah birokrasi kali ini. Masalah yang aku bicarakan adalah mengenai menulis dan proses menulis. Biasanya, aku bisa sangat cerdas dan tergerak menulis tentang apa saja dengan lancarnya. Tetapi, beberapa hari ini lain sekali.

Kalau hanya posting masalah-masalah yang sederhana, aku bisa hanya mengambil satu kata kunci saja. Berawal dari satu kata itu, pikiranku langsung secara otomatis membuat sketsa peta konsep di awang-awang. Aku terbang melayang untuk menjalin kalimat demi kalimat tanpa harus melihat konsep. Jari tangan ini akan lincah mengetikkan apa saja. Sekejab aku sudah bisa membuat satu buah gagasan sepanjang lima atau enam paragraf.

Paling aku sudah kejangkitan virus di kantor. Atau, barangkali kemampuanku berbahasa dan pengalamanku sebagai guru bahasa sudah memudar kesaktiannya. Bisa jadi, karena lebih sering jogging pada waktu jam-jam kerja, skill kebahasaanku jatuh di jalanan, utamanya sekitar Taman Rajekwesi. Kalau ini benar-benar terjadi, aku akan menuntut mereka membuat aku tambah bodoh. Aku guru bahasa yang dibodohkan oleh birokrasi bobrok. Siapa lagi yang mau aku salahkan?

156

Sudah hari ke 38 ini aku habis-habisan posting di facebook, twitter dan wordpress agar kemampuanku menulis semakin lancar. Persis. Itu jawaban kepada orang yang mengatakan aku kurang pekerjaan. Berulang kali posting dan komentar.

Semuanya masih belum cukup. Aku masih saja perlu banyak latihan lagi. Seperti kemarin pagi, aku merasa ‘blank’ dan tidak bisa memulai tulisan yang aku mau segera dikerjakan. Tidak tersentuh. Bisanya ya posting awuran seperti sekarang ini. Kalau hanya posting seperti ini, kapan aku bisa bangga dan menunjukkan kepada orang lain ini loh tulisanku. ini juga artikel yang aku tulis. Dan, yang aku sangat dambakan adalah ketika aku bisa berkata, “Ini buku yang sudah bisa terbit!”

Kapan? Walah, aku pikir sangat gampang. Di waktu yang sangat longgar seperti sekarang saja aku masih meraba-raba dan belum menemukan tangga pertamanya. Aku masih perlu menunggu waktu terang sehingga aku bisa melangkahkan kaki, menapak ke arah yang benar sehingga aku tidak terperosok. Aku perlu membuat perencanaan yang matang tentang apa saja yang bisa aku tulis dalam sebuah indahku. Aku harus mencari sumber cerita persis di lokasi yang mendatangkan imajinasi tepatnya.

Aku akan menjadi seorang etnografer di sekolahku yang lama. Baru kemarin aku bisa agak lega setelah bertemu dengan kepala sekolah agar aku boleh standby di sekolah. Dunia sekolahku sudah berubah jauh. Teman-temanku banyak yang bercerita tentang kepala sekolah yang baru, yang mereka katakan sangat baik. Kalau ceritanya begitu, maka tugasku untuk bisa menjadi penulis menjadi semakin sulit. Pada waktu dulu akulah yang selalu menjadi korban. Aku maunya menceritakan tentang kurang bagus atau buruknya kepemimpinan sekolah. Kalau keadaan berubah, jelas tidak mudah.

Apalagi aku sekarang adalah orang asing. Tak pikir gampang!

#mimpipenulis

Author:

Biarkan langkah bergerak sejalan waktu mengiring.